Daging Babi Bukan Komponen Adat Batak


Dari sebuah seminar di tahun 1983.

Berikut tulisan yang diambil Batak News dari majalah Tempo edisi tempo dulu, 1983. Yang beragama Islam tidak akan lagi menghadapi daging babi. Bupati Tapanuli Tengah, Lundu Panjaitan, optimistis warga di wilayahnya, yang 50% Kristen, tidak lagi akan menghadang saudara-saudaranya yang muslim dengan hidangan itu. Sebuah seminar adat yang diarahkan Panjaitan, di Balai Desa Pandan, 376 km dari Medan, menyimpulkan bahwa “daging babi bukan komponen mutlak adat Batak”.

Pesta adat di Tapanuli Tengah, yang seimbang perbandingan warganya (170.000 jiwa) antara yang Islam dan Kristen, memang sering bikin kecewa. Kaum parsubang (muslim, plus mereka yang alergi atau pantang babi) bila menghadiri pesta keluarga Kristen tak diberi makan dalam rumah. Mereka di’jiran’, rumah keluarga Islam yang ‘dititipi’.

Bupati yang beragama Kristen itu pernah menerima keluhan Haji M. Pardede, 52 tahun. Pardede, pemuka adat Desa Simanosor tahun 1981 diundang keluarga mempelai wanita (anak boru) yang beragama Kristen dalam acara masuk rumah baru. Karena dalam rumah hajatan itu terhidang daging yang diantangkannya, ia kecewa sekali tak bisa ikut masuk rumah baru itu.

Kisah lain dituturkan Bupati: pengalaman Ketua DPRD Tapanuli Tengah, Dangol Tobing. Tahun 1977 Tobing menerima undangan pesta pembayaran perkawinan dari pihak anak boru yang Kristen. Melihat hidangan babi, Tobing ini spontan marah. Pesta adat dianggapnya batal, malah mengandung unsur menghina, katanya. “Soal-soal semacam itulah yang mendorong saya melakukan seminar ini,” tutur Bupati yang berani mengeluarkan biaya Rp 5 juta untuk kumpul-kumpul itu.

Mula-mula ada belasan orang dari 200 peserta, yang keras mempertahankan makanan kelaziman itu. Namun argumen mereka dianggap tidak sekuat pandangan yang diberikan penasihat borbor (persatuan marga) di Tapanuli Tengah, Ungkap Tua Sipahutar, dan Pendeta A. Saragih.

Berpegang pada Alkitab, Pak Pendeta, 61 tahun, malah mengatakan: “Perjanjian lama melarang umat memakan daging babi. Injil atau Perjanjian Baru tak melarang umat Kristen memakan segala jenis hewan. Namun dalam Kisah Para Rasul, umat Kristen dinasihati untuk tidak mengecewakan orang lain.” Sedang main catur saja, yang juga satu kebiasaan harian orang Batak, menurut Saragih harus dihentikan bila banyak orang menganggapnya cuma menghabiskan waktu.

Adat Batak sebenarnya “fleksibel” menurut Ungkap Tua Sipahutar, 56 tahun. “Boi do pinahan lobu ditabasi dohot hambing,” petuah ompung (kakek) yang beragama Kristen itu. Niat menghidangkan daging babi bisa saja diganti dengan hidangan daging kambing, ayam, ikan atau telur ayam. Itu artinya, “Kebiasaan menghidangkan daging babi itu hanya terdorong oleh selera atau gengsi.”

Bupati, sebagai moderator, menimpali, “Orang yang tidak makan daging babi tetap konsisten dengan adat Batak. Apakah pahlawan nasional Sisingamangaraja tak memakai adat Batak karena dia pemeluk Parmalim yang memantangkan daging babi. Begitu pula umat Islam di Tapanuli Tengah ini.”

Semuanya digali dari adat dan dirumuskan “selaras dengan Pancasila”. Maka 13 rumusan pun tercapai. “Syukur bisa lempang,” komentar Maulud Simatupang, pemuka adat Sumando Pesisir — kaum muslim Tapanuli Tengah. Toh Bupati menganggap langkahnya belum selesai. “Niat saya membuat lokakarya lagi untuk mempersatukan adat Sumando dari kalangan warga pesisir Tapanuli Tengah yang muslim dengan adat Batak pedalaman yang Kristen,” katanya. Sebab adanya perbedaan itu dirasakan seolah sebagai tanda bahwa Tapanuli Tengah belum punya identitas adat yang khas.

Padahal kerukunan sesama warga negara di daerah ini sudah teruji. Pada perayaan HUT Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Sibuluan, awal Februari lalu, panitianya justru lebih banyak yang Islam, kata Lundu Pandjaitan. “Dan hasil aksi dana HUT gereja itu pun sebagian disumbangkan untuk delapan masjid di kawasan itu. Inilah pengamalan P4 secara nyata.” [www.blogberita.com]

CATATAN BATAK NEWS:
Inilah yang kusebut sebagai toleransi beragama. Di Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumut, hubungan warga muslim dan nasrani hingga hari ini memang terkenal sangat harmonis. Mereka saling bantu ketika umat lain hendak merayakan hari besar agama mereka. Dan inilah juga hal yang kuharapkan dengan menulis artikelku tiga hari lalu itu — yang mana sebagian dari engkau merasa tak butuh umat lain.

Beberapa hari lalu aku chat dengan seorang bloger, Batak muslim di Jakarta. Ia masih lajang dan aktif dalam organisasi “naposobulung” [generasi muda] Batak. Tapi ia minoritas, karena hampir semua rekannya di organisasi itu adalah nasrani.

“Kadang sedih sekali hatiku, Bang. Kalau ada acara pesta atau semacam rapat, mereka sama sekali tidak menyiapkan makanan untuk ‘parsubang’ [makanan halal],” katanya.

Masihkah engkau mau menyangkal itu? Aku sendiri pun sering merasakannya, terutama ketika aku masih tinggal di perantauan. Dan dengan hati yang sedih, aku dan istriku terpaksa membeli nasi dari warung muslim.

Semoga dengan artikel seminar di atas, kita sekalian, orang Batak, bisa membedakan mana urusan adat dan mana urusan agama. Batak tak harus nasrani. Batak bukan agama. Batak adalah budaya.

(Dikutip dari: http://untukanakku.wordpress.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: