Santo Maximilian Kolbe


Martir dari Auschwitz

“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Tiada kasih yang lebih besar, selain daripada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya…Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” [Yohanes 15:12,13,17]
Menjelang sore dari suatu hari yang panas terik di bulan July 1941, seorang tahanan perang menyelinap pergi dari Auschwitz, sebuah perkampungan-konsentrasi ghetto bagi orang Yahudi di sebelah Selatan Polandia. Ketika menghilangnya orang tersebut diketahui pada saat absensi tahanan di malam hari, kelompok-kelompok pencari ditugaskan untuk pergi mencarinya. Jika tahanan yang kabur tersebut tidak ditemukan dalam waktu 24 jam, komandan perkampungan tahanan mengumumkan, sepuluh dari 600 orang-orang di barak penjara yang sama, akan dipilih secara acak dan akan dihukum mati sebagai balasannya.

Kematian bukan sesuatu hal yang langka di Auschwitz. Tetapi bagi para pesakitan, yang tinggal berdesak-desakan di ruang-ruang yang kumuh dan jorok di Blok 14, rasa was-was menghadapi kemungkinan dipilih untuk dihukum mati, sungguh merupakan suatu siksaan psikologis. Sepanjang malam yang terus bergulir, tidak bisa disalahkan kalau seseorang berharap dalam hati supaya tahanan yang melarikan diri tersebut tertangkap kembali.

Tetapi dia tidak ditemukan. Dia tidak pernah terdengar lagi kabar beritanya, menghilang dari sejarah, setelah mencetuskan apa yang tiga puluh tahun kemudian, disebutkan oleh Bapa Suci Sri Paus Paulus VI sebagai “mungkin seorang tokoh yang paling cerdas dan paling cemerlang” yang muncul dari “perlakuan yang sangat tidak manusiawi dan kekejaman yang tak terperikan dari jaman kekuasaan Nazi.”

Tidak seorangpun yang bisa tidur di Blok 14 pada malam itu. Setiap orang sangat tertekan jiwanya. Harga diri, rumah, kebebasan, keluarga – semua telah hilang; sekarang jiwapun juga terancam. Salah seorang mantan tahanan, mantan serdadu Polandia Francis Gajowniczek berkata, “Setidaknya jika engkau masih hidup engkau masih bisa berharap.” Bagi Gajowniczek, pengharapan itu sungguh-sungguh nyata. Dia percaya bahwa istrinya dan kedua puteranya masih hidup. Jika saja dia bisa keluar dengan selamat dari tempat yang penuh sengsara ini, dia akan dapat menemukan mereka kembali, dan bersama-sama mereka akan kembali membangun hidup mereka yang berantakan karena perang.

Di ranjang yang berdekatan berbaring seorang seniman profesional, Mieczyslaw Kowcielniak, yang sama sekali sudah kehilangan harapan. “Mereka yang beruntung sudah mati, ” dia teringat berpikir demikian. “Dan tentara Nazi telah merubah kami semua menjadi binatang-binatang yang akan mencuri demi secomot roti. Kecuali sang imam.”

Bahkan pada waktu itu, Koscielniak menyadari bahwa sang imam sungguh berbeda dengan orang lain. Meskipun seringkali jatuh sakit, lebih lemah fisiknya dibanding dengan banyak orang lain, sang imam tampaknya selalu membagikan makanan miliknya dengan orang-orang. Jika dia masih bisa berdiri, dia akan bekerja; jika ada yang jatuh kelelahan, dia akan mengambil beban orang tersebut. Dia menerimakan sakramen pengakuan dosa secara seumbunyi-sembunyi, dan bahkan selama malam yang panjang tersebut Koscielniak teringat melihat sang pastor berlutut di samping ranjang seorang anak muda yang menangis ketakutan, sambil mengatakan bahwa “kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakutkan.”

Ketika tiba saatnya para tahanan berbaris untuk absensi di pagi hari, matahari telah menyinarkan cahayanya. Tahanan dari blok tahanan lainnya telah berbaris menuju tempat kerja mereka, tetapi para laki-laki dari Blok 14 tetap berdiri di lapangan. Mereka terus berdiri sepanjang hari itu, sepuluh baris “tulang-tulang hidup”. Beberapa yang jatuh semaput, ditendangi dan dipukuli sampai mereka berdiri lagi. Mereka yang tidak dapat kembali berdiri dilemparkan hingga menjadi suatu tumpukan.

Pada jam 6 sore, komandan perkampungan, Kolonel Fritsch, mengumumkan bahwa tahanan yang melarikan diri tersebut belumlah ditemukan. Sekarang dia akan memilih sepuluh orang yang harus mati. Mereka akan dibawa ke bunker (sel tahanan bawah tanah) dan akan dibiarkan kelaparan sampai mati.

Pemilihan hanya memakan waktu beberapa menit, tetapi bagi para tahanan tersebut waktu rasanya berjalan sangat lambat. Bunyi langkah-langkah sepatu bot di atas tanah yang terbakar terik matahari, Kolonel Fritsch berjalan dari satu baris ke baris lainnya. Sepuluh kali dia berhenti, menunjuk dan mengucapkan sepatah kata ditengah-tengah keheningan yang mengerikan: “Engkau!”. Setiap kali pula, penjaga menggiring pesakitan yang dihukum mati itu ke depan. Beberapa diantara sepuluh orang tersebut menangis. Salah satunya, serdadu Gajowniczek, yang menjerit pilu, “Oh istriku! Anak-anakku yang malang!”

Sewaktu para penjaga bersiap-siap untuk menggiring pergi orang-orang terhukum mati tersebut, tiba-tiba ada keributan di tengah-tengah barisan. Tahanan yang kesebelas melangkah ke depan, yaitu sang imam. “Apa maunya si babi Polandia itu?” kolonel Fritsch berteriak. Tetapi sang imam tetap melangkah ke depan, langkahnya tidak tegap, wajahnya pucat seperti mayat, tidak menghiraukan todongan laras-laras senjata yang diarahkan oleh para pengawal kepadanya. Akhirnya, dia berkata: “Semoga menyenangkan Lagerfuhrer, saya ingin menggantikan tempat salah satu dari para tahanan ini.” Dia menunjuk kepada Gajowniczek. “Yang itu”.

Kolonel Fritsch terbelalak menyaksikan peristiwa yang terjadi di depan matanya. “Apa engkau sudah gila?” sang komandan Nazi berteriak.

“Tidak,” jawab sang pastor. “Tetapi saya sendirian di dunia ini. Lelaki itu punya keluarga. Harap ambil saya.”

“Siapakah engkau? Apa pekerjaanmu?”

“Saya seorang imam Katolik.”

Orang-orang yang menyaksikan kejadian tersebut melihat dengan gelisah. Koscielniak teringat berpikir: “Fritsch akan mengambil keduanya, sang pastor maupun Gajowniczek.” Dan apa yang dipikirkan oleh Fritsch, menatap pandang mata yang teduh dari wajah yang pucat dihadapannya? Apakah dia menyadari bahwa pada saat yang luar biasa tersebut dia menghadapi suatu kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri? Mereka yang teringat pada peristiwa itu mengatakan bahwa pandang mata sang kolonel meredup. “Baiklah,” dia bergumam, dan lantas membalikkan badannya.

Para laki-taki tahanan dari Blok 14 tersebut tercengang-cengang. “Kami sungguh tidak dapat mengerti,” demikian Koscielniak berkata sekarang. “Mengapa seseorang mau melakukan hal seperti itu? Memangnya siapa sebetulnya dia, sang imam?”

Namanya adalah Maximilian Maria Kolbe, seorang imam-biarawan Fransiscan, dan setelah beberapa waktu, Koscielniak dan yang lain-lain yang selamat – mengerti bahwa mereka telah menjadi saksi dari suatu peristiwa yang menjadikan seorang Santo.

Raymond Kolbe – dia mengambil nama Maximilian ketika dia bergabung dengan tarekat religius Fransiscan – dilahirkan di desa miskin di Polandia pada tahun 1894, dan sejak umur 13 sudah memutuskan akan menjadi seorang imam. Pada umur sepuluh tahun, dia menceritakan kepada ibunya suatu pengalaman mistis dimana Santa Perawan Maria menawarkan kepadanya untuk memilih salah satu dari dua mahkota. Yang berwarna putih melambangkan kemurnian. Yang berwarna merah melambangkan kemartiran. “Saya ambil dua-duanya,” sang anak lelaki berkata.

Dia mengidap penyakit TBC pada masa mudanya, dan sejak itu tidak pernah terbebas dari penyakit. Tetapi “dia adalah seorang yang paling berbakat,” demikian kata salah satu professor yang mengajarnya di Universitas Gregorian di Roma. Pada usia 21 tahun dia telah mendapat gelar doktor dalam bidang filosofi. Setahun setelah pentahbisannya sebagai imam, dia mendapatkan satu lagi gelar, yaitu dalam bidang teologi. Dia mungkin bisa memiliki karir yang cemerlang dalam hirarki Gereja.

Tetapi panggilannya terletak di tempat lain. Pada tahun 1917, dia membangun suatu organisasi di Roma yang dinamakan Milisi Maria Immakulata, suatu kerasulan yang bertujuan untuk memenangkan kembali, dunia yang telah diracuni oleh peperangan dan oleh keterikatan terhadap hal-hal yang duniawi. Sekembalinya ke Polandia, dan bekerja sendirian di depan pandang mata para atasan-atasannya yang keheranan dan tidak habis pikir, dia mulai menerbitkan suatu majalah bulanan, Ksatria Immakulata, untuk mewartakan Injil cinta kasih Allah. Ketika terbitannya mencapai 60000 eksemplar, Pastor Kolbe terpaksa mencari tempat untuk menampung majalah yang telah tumbuh besar dan para bruder-bruder biarawan Fransiscan yang terus berdatangan untuk membantunya.

Pada tahun 1927, dia menempatkan suatu patung Bunda Maria di tengah-tengah lapangan sekitar 40 kilometer dari Warsawa – suatu awal dari apa yang nantinya akan menjadi biara yang terbesar di dunia, Niepokalanow, yang dibangun oleh Kolbe dan para biarawan-biarawan yang membantunya dan masih ramai dihuni hingga hari ini. Pada tahun 1939, ada lebih dari 750 imam dan biarawan di Niepokalanow, dan mereka mempublikasikan lebih dari sejuta eksemplar majalah Ksatria Immakulata setiap bulannya. Tetapi tahun 1939 juga merupakan tahun dimana Hitler memulai Perang Dunia II dengan serangan yang menghancurkan ke Polandia.

Karena tegas-tegas menentang Nazi, pastor Kolbe ditangkap bahkan sebelum Warsawa jatuh ke tangan Nazi. Dan meskipun dia dibebaskan segera setelahnya, dia menyadari bahwa penangguhan itu hanya sebentar. Dia bergegas kembali ke Niepokalanow yang telah di bom dan dirampok untuk membangun suatu tempat penampungan bagi kaum pengungsi, dan pada akhirnya 2000 tempat tinggal dibangun disana. Dia bahkan sempat menerbitkan satu edisi terakhir dari majalah yang digemarinya. “Tidak seorangpun di dunia ini bisa mengubah kebenaran,” demikian tulisnya pada waktu itu. “Apa yang bisa kita lakukan hanyalah mencarinya, dan menjalaninya.”

Pada tanggal 17 Februari 1941, Nazi datang kembali untuk mencarinya. Kali ini, dituduh sebagai musuh dari gerakan Nazi, pastor Kolbe dikirim pertama ke penjara di Warsawa dan lalu ke Auschwitz. Dia tiba dengan menumpang suatu gerbong untuk ternak, berjejal-jejal bersama 320 orang lainnya, disambut oleh kerja paksa yang sangat melelahkan, jatah secuil makanan yang terdiri dari sepotong roti dan kuah sayur kol, dan perlakuan di luar batas kemanusiaan hari demi hari. Suatu hari, selagi memanggul beban kayu yang berat dengan susah payah, pastor Kolbe terantuk dan jatuh, dan dipukuli sampai nyaris mati oleh para pengawal. Dia dirawat di rumah sakit perkampungan tahanan oleh seorang dokter Polandia yang bernama Rudolf Diem. Ketika dia tidak dapat bekerja, dia hanya mendapat setengah jatah makanan, tetapi seringkali masih membagi sebagian jatahnya kepada para pasien lainnya. “Engkau masih muda,” demikian katanya. “Engkau harus tetap hidup.”

Meskipun sakit, beratnya kurang dari 45 kilogram, pastor Kolbe bisa tidur diatas ranjang di rumah sakit. “Tetapi dia bersikeras untuk tidur diatas dipan kayu yang dilapisi jerami, ” Dr. Diem berkata. “Dia ingin memberikan ranjang yang lebih enak kepada mereka yang jauh lebih buruk keadaannya daripada dirinya sendiri.” Menjelang akhir bulan Juli, merasa lebih baik, sang pastor ditugaskan di Blok 14. Hanya beberapa hari kemudian ada tahanan yang melarikan diri dan pastor Kolbe mengulurkan tangannya untuk menyambut mahkota kemartiran.

Sepuluh lelaki yang dipilih untuk mati kelaparan, sekarang berbaring telanjang bulat diatas lantai semen di dalam sel bawah tanah yang gelap di Blok 13. Kadang-kadang mereka menjerit-jerit dan menangis dalam keadaan setengah sadar akibat kesengsaraan yang amat sangat. Tetapi selama mereka sadar mereka merespon terhadap jaminan-jaminan yang diberikan oleh pastor Kolbe bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka. Ketika mereka mempunyai kekuatan, mereka berdoa dan menyanyi. Setelah beberapa hari, para penjaga, yang telah menyaksikan ratusan orang meninggal tetapi tidak pernah menyaksikan seorangpun menghadapi kematian dengan begitu tenangnya, menolak untuk mendekati sel kematian tersebut dan menyuruh seorang juru-rawat etnis Polandia untuk mengangkat mayat-mayat mereka yang telah meninggal.

Di blok 14, serdadu Gajowniczek pada awalnya tidak dapat mengerti atas pengorbanan pastor Kolbe. Dia terus menangis dan menolak untuk makan. Lantas Koscielniak membuatnya tersadar: “Sadarlah! Apakah sang imam akan mati dengan sia-sia?” Pada saat itu, Gajowniczek mengambil keputusan bahwa dia harus tetap hidup. Dia tidak akan menyia-nyiakan karunia yang diberikan lewat pastor Kolbe. Juga bagi Koscielniak, pengorbanan sang imam mengakhiri rasa putus-asanya. “Satu saja orang seperti itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk jalan terus.”

Setelah dua minggu berlalu, hanya empat orang yang masih hidup di sel bawah tanah di Blok 13, dan dari kempat orang itu, pastor Kolbe adalah yang paling terakhir meninggal. Seolah-olah dia harus menolong setiap kawan satu selnya untuk melalui derita terakhir sebelum dirinya sendiri bisa terbebaskan dari derita yang sama. Para penjaga terpaksa harus menghabisinya. Mereka datang untuk membunuhnya lewat injeksi asam karbolat pada hari ke limabelas dari kesengsaraannya, yaitu tanggal 14 Agustus, sehari menjelang hari raya Maria Diangkat Ke Surga (dirayakan setiap 15 Agustus). Dengan tersenyum dan berbisik, “Ave Maria, ” sang pastor mengulurkan tangannya untuk disuntik mati.

Empat tahun sesudahnya, kisah horor tersebut berakhir, Francis Gajowniczek berhasil kembali ke tempat dimana dulu tempat tinggalnya di Warsawa dan menemukan bahwa rumahnya sudah terkena bom dan tinggal puing-puing. Kedua puteranya terbunuh akan tetapi istrinya selamat. Mereka pindah ke suatu desa kecil dan dengan perlahan membangun kembali hidup mereka yang baru.

Kemudian Gajowniczek mendengar berita yang mencengangkan: kabar tentang pastor Kolbe yang menjadi martir telah mencapai Vatikan, dan telah diusulkan agar ia dibeatifikasi, suatu langkah awal bagi kanonisasi dirinya sebagai seorang Santo Gereja Katolik. Gajowniczek dipanggil oleh Gereja untuk memberikan kesaksiannya, demikian juga mereka yang lainnya yang telah menjadi saksi atas tindakan-tindakan Kolbe yang tidak mementingkan diri sendiri maupun kisah kematiannya yang heroik. Akhirnya, 24 tahun setelah penyelidikan yang sangat teliti, keputusan yang diambil telah dikuatkan.

Demikianlah pada tanggal 17 Oktober 1971, di atas altar agung Basilika Santo Petrus di Roma, 8000 pria dan wanita yang telah menempuh perjalanan dari Polandia mengikuti perayaan beatifikasi yang khidmat. Diantara mereka adalah Francis Gajowniczek dan istrinya, dua-duanya sudah pensiun dan tua-renta, demikian juga Koscielniak. Sebuah potret dari Beato Pastor Kolbe disingkapkan, dan untuk pertama kalinya dalam memori, Sri Paus sendiri yang memimpin ritus yang agung dan kudus tersebut.

“Berjuta-juta orang telah dikorbankan oleh kesombongan dari kekuasaan dan kegilaan dari rasialisme,” demikian kata-kata Bapa Suci. “Tetapi di tengah-tengah kegelapan tersebut bersinarlah tokoh Maximilian Kolbe. Di atas ruang kematian yang besar tersebut melayang-layanglah firman kehidupan-Nya yang Ilahi dan kekal: kasih yang penuh penebusan.”

Demikian Pastor Kolbe tetap hidup, sebagai suatu simbol pengorbanan dan kepahlawanan yang tidak dikenal oleh dunia ini. Dia memberikan karunia kehidupan kepada seorang lain, dan bagi yang lain-lainnya, suatu hati yang mengalahkan tirani yang menindas mereka. Dan bagi segenap manusia, dari segala aliran kepercayaan, dia meninggalkan warisan atas rohnya yang tidak terpatahkan.

Rahasia Heroisme Santo Maximilian Kolbe
dalam kata-katanya sendiri:

Jaman modern didominasi oleh Setan dan akan lebih buruk lagi di masa mendatang. Pertentangan dengan neraka tidak bisa dimenangkan oleh manusia, bahkan yang paling pintar sekalipun. Hanya Immakulata saja yang telah mendapat janji dari Allah, kemenangan atas Setan.

Jangan takut untuk terlalu mengasihi Immakulata karena kita tidak akan pernah dapat menyamai kasih yang diberikan oleh Yesus kepada Maria, dan mengikuti jejak langkah-Nya adalah proses penyucian diri kita.

Cobalah untuk melakukan segala hal sebagaimana Maria akan lakukan kalau dia adalah engkau, terutama dengan mengasihi Tuhan sebagaimana dia mengasihi-Nya…. Tetapi hal ini cuma bisa engkau pelajari “dengan berlutut” (=rendah hati).

Kasih, yang adalah “persatuan yang sempurna” tumbuh dan mencukupi dirinya sendiri hanya lewat penderitaan, pengorbanan, dan kayu salib.

Tidak ada heroisme yang tidak dapat dicapai oleh seseorang dengan bantuan Immakulata.

(sumber: http://www.gerejakatolik.net)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: