MENCARI PASANGAN HIDUP


Salah satu keputusan terpenting yang harus diambil oleh seseorang dalam kehidupannya adalah mengenai siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya. Keputusan ini menjadi keputusan yang sangat penting, mengingat bahwa secara mendasar perkawinan hanya dirancang Allah untuk dilakukan sekali seumur hidup. Menikah dengan orang yang salah berarti mengalami kekecewaan seumur hidup; tetapi menemukan orang yang tepat, akan mendatangkan tahun-tahun yang dapat dinikmati bersama.

Masalah yang sangat essensial adalah bagaimana menemukan orang yang tepat? Apakah memang betul Tuhan telah menetapkan seseorang untuk menjadi pendamping hidupku? Kalau ya, bagaimana caranya agar dapat menemukan orang tersebut? Kalau tidak, apa yang seharusnya saya lakukan untuk menemukan orang yang tepat tersebut?

Konsep yang Umum (Tetapi Keliru)

Salah satu kekeliruan yang umum dijumpai dalam masalah menemukan pasangan hidup yang tepat adalah keyakinan bahwa Allah telah menetapkan satu orang untuk menjadi pasangan dari seseorang, sebelum orang tersebut dilahirkan, bahkan mungkin sebelum dunia diciptakan.

Sebagai akibat dari kekeliruan konsep ini, maka tidak sedikit orang yang berusaha menemukan “pasangan jiwanya”dengancara-cara yang kurang dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya, dengan bertanya kepada ahli ramal-meramal. Tidak jarang ditemukan, mereka yang sudah menikah tetapi merasa frustasi dengan pernikahannya,merasionalisasikan apa yang dialaminya dengan mengatakan, “Ia memangodohku, mau apa lagi?”. “Mau tidak mau, rela tidak rela, saya harus belajar kehendak Tuhan, karena ini jodoh dari Tuhan.”

Dengan demikian, orang Kristen sebenarnya — secara sadar ataupun tidak — sudah menjadi seorang fatalis. Seorang fatalis adalah orang yang melihat segala sesuatu yang terjadi di dalam kehidupannya sudahditentukan oleh apa yang disebut sebagai takdir.

Apabila memang benar bahwa Allah telah menetapkan satu orang untuk menikahi satu orang, maka Allah-lah yang patut bertanggung jawab untuk ketidakbahagiaan yang dialami dalam rumah tangga. Mengapa?Alasannya sederhana, yaitu Allah-lah yang telah menetapkan mereka untuk menjadi pasangan satu dengan yang lainnya.

Lalu Bagaimana?

Allah menciptakan manusia dan memberinya kehendak bebas. Termasuk dalam kehendak bebas yang dimiliki oleh manusia adalah kebebasan dalam memilih pasangan hidup. Allah juga menciptakan manusia dengan kemampuan untuk merasa dan berpikir dengan baik. Dengan kemampuan untuk merasa dan berpikir inilah, seharusnya manusia memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupnya. Dalam proses pemiliha tersebut, Alkitab memberikan beberapa pedoman penting :

1. Jangan memilih seorang yang tidak seiman sebagai pasangan hidup
Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, oleh karena menyangkut satu hal yang sangat mendasar: dasar dan pandangan hidup. Perbedaan dasar dan pandangan hidup akan mempersulit proses komunikasi dan penerimaan satu dengan yang lain.

2. Pertimbangkanlah kesesuaian antara diri Anda dan pasangan Anda.
Allah menghendaki setiap anak-anak-Nya mendapatkan pasangan yang seimbang dan sesuai di dalam kehidupannya. Kesesuaian tidak berarti sama persis, tetapi kesesuaian berarti berbeda, tetapi bisa saling melengkapi dan menerima.

3. Pertimbangkanlah karakternya.
Martin De Haan memberikan beberapa kualitas karakter yang penting bagi orang Kristen yang akan memasuki pernikahan pada masa kini:
a. Kesediaan untuk melayani, kerendahan hati (Yohanes 13:1-7; Roma 12:16)
b. Kemurnian dalam hal seksual (Roma 13:13-14; Ibrani 13:4)
c. Prioritas yang benar dalam hidup (Pengkotbah 2:1-11)
d. Komitmen untuk bergereja dan melayani (Ibrani 10:24-25)
e. Sikap mengasihi (Yohanes 13:35)
f. Penguasaan diri (Amsal 23:20-21)
g. Tanggung jawab (1Timotius 5:8)

Tentunya daftar ini tidak seharusnya menjadikan kita mencari orang yang sempurna. Tidak ada orang yang sempurna, tetapi kesediaan untuk terus belajar dan bertumbuh dalam karakter-karakter di atas sangatlah penting.

Beberapa Tips Yang Berguna

Dari kisah Eliezar menemukan Ribka bagi Ishak (Kejadian 24), terdapat beberapa tips yang berguna dalam proses menemukan pasangan hidup yang cocok.

1. Carilah di tempat yang tepat.
Eliezar tidak mencari pasangan bagi Ishak di kampung orang Kanaan. Ia mencari pasangan bagi Ishak di tempat di mana orang-orang juga menyembah Tuhan yang benar. Demikian juga bagi kita sekarang. Temukanlah calon pasangan hidup kita, di tempat yang tepat.

2. Minta pertolongan Tuhan.
Eliezar berdoa dan memohon pimpinan Tuhan. Demikianlah juga hendaknya yang kita lakukan. Dengan berdoa, berarti kita mengakui keterbatasan yang ada, dan sekaligus mengakui keutamaan Tuhan didalam kehidupan kita.

3. Jangan mendasarkan keputusan semata-mata mengikuti satu “tanda”.
Eliezar terus-menerus mengamati dan menilai Ribka, walaupun ia sudah mendapati bahwa “tanda” yang dimintanya telah terpenuhi.Meskipun kita menyakini “tanda” itu berasal dari Allah; tetap pergunakanlah akal sehat.

4. Meminta pertimbangan orang lain.
Ribka pun, sebelum ia akhirnya bersedia mengikuti Eliezar, terlebih dahulu mendengarkan pendapat dari keluarganya

Selamat mencari pasangan hidup Anda bersama dengan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: