Poda sagu – sagu Marlangan


Dengan mempergunakan Silompit dalan dan berlayar di daun sumpit, pada sore harinya Raja Silahisabungan telah tiba di Silalahi Nabolak. Begitu sampai di rumah tas hadang–hadangan terus ditaruh di atas para–para dan raja Silahisabungan duduk bersandar dengan muka murung. Melihat kejadian itu Pinggan Matio dan anak–anaknya tidak berani bertanya apa yang terjadi.
Pada keesokan harinya pada waktu Raja Silahisabungan pergi memeriksa ladangnya, Pinggan Matio mendengar suara bayi menangis di atas Para–para lalu memeriksa tas hadang–hadangan Raja Silahisabungan. Pinggan Matio terkejut melihat seorang bayi yang cantik mungil di dalamnya, kemudian memangku dan menimang–nimangnya agar tidak menangis lagi. Setelah Raja Silahisabungan kembali ke rumah, istrinya Pinggan Matio bertanya :”amang Raja Nami, dari mana bayi lelaki yang cantik mungil ini?” katanya dengan ramah. Dengan suara yang lembut Raja Silahisabungan menerangkan asal–usul anak itu dan meminta agar memaafkan perbuatannya. Mendengar keterangan suami yang penuh kasih sayang, Pinggan Matio berkata “Sudah Tambun (tambah) anakku dan inilah anak bungsuku maka saya beri namanya Tambun Raja,“ katanya sambil mendekap dan menimang–nimang bayi itu. Mendengar pernyataan Pinggan Matio, Perasaan Raja Silahisabungan menjadi lega.
Kasih saying ibu Pinggan Matio kepada anak bungsunya Tambun Raja sungguh berlebihan sehingga menimbulkan iri hati abang–abangnya. Raja Silahisabungan dan ibu Pinggan Matio sangat memanjakan Sitambunraja, yang kemudian terkenal Siraja Tambun. Pada suatu ketika Raja Silahisabungan mengadakan pembagian tanah (Tano Golan) kepada anak–anaknya agar jangan terjadi persoalan di kemudian hari. Dalam pembagian itu Siraja Tambun mendapat tanah yang paling luas dan subur yang mengakibatkan kecemburuan abang–abangnya.
Pada suatu hari terjadi pertengkaran antara si Raja Tambun dengan salah seorang abangnya. Dalam pertengkaran itu terungkap kata–kata yang menyakitkan hatinya : “hai Raja Tambun, kau jangan manja dan sombong. Kau bukan adik kami, entah di mana ibumu kami tak tau,“ kata abangnya itu. Mendengar ucapan yang memilukan itu, Siraja Tambunpun menangis tersedu–sedu dan mengadu kepada ibunya. Ibu Pinggan Matio mengusap usap anaknya itu dengan kasih sayang dan mengatakan: ”jangan dengarkan kata–kata abangmu itu. Aku adalah ibumu yang membesarkan kau sejak kecil,“ katanya. Tetapi setiap timbul pertengkaran dengan abangnya selalu didengarnya kata–kata yang menyayat hatinya, akhirnya Siraja Tambun memberanikan diri bertanya kepada ayahnya :”Ayah, siapakah ibu yang melahirkan saya dan di mana paman (tulang)ku ?” Raja Silahisabungan menjawab dengan ramah dan penuh kasih sayang :“anakku tersayang, ibumu adalah Pinggan Matio yang membesarkan dan menyusukan kau sejak kecil,” katanya .

About these ads

One Response

  1. Poda sagu-sagu marlangan, poda na pasadahon pomparan Raja Silahisabungan sahat tu sadari on. Boi dokkonon pengembangan sian dalihan natolu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: